Ada orang papua mau membeli handphone:

Orang Papua: Pak, saya mau beli handphone.

Pemilik Toko: handphone sih ada, tp sinyalnya belum ada.

Orang Papua: kalau begitu saya beli handphone sekalian sinyalnya Pak!

—————————————————————————————-

Ada dua orang papua sedang mengutak-atik handphone.

Orang Papua A: tolong dong balesin sms di handphone saya

Orang Papua B: kenapa tidak nulis balesannya sendiri?

Orang Papua A: engga mau ah, tulisan saya jelek

=======================================================

Mop (lelucon) papua itu saya dengar dari seorang kawan malam ini. Lucu, tetapi terjadi. Sekedar mengingatkan bahwa gegar budaya sering terjadi di daerah terpencil yang kemudian diserbu teknologi.

Kawan itupun bercerita, gunung tembagapura -yang sekarang telah menjadi lembah- dulunya adalah salah satu gunung sakral tempat bertemunya 7 suku besar di papua (ada kurang lebih 60an suku di papua). Dan kerugian terbesar dari eksploitasi itu bukanlah kekayaan alam yang dibawa keluar, tetapi hancurnya budaya.

Kemiskinan struktural diciptakan dengan cara memperkenalkan mereka dengan standar2 masyarakat modern. Sesuatu yang tidak diperlukan, tetapi digambarkan sebagai sesuatu yang dibutuhkan. Mereka tidak butuh mencuci dengan detergen, mereka tidak butuh beras, mereka tidak butuh televisi. Dan disana semua itu dibandrol dengan harga 10 kali lipat dari pusat produksi(jawa).

Hmm… perenungan diskusi berlanjut, apakah mereka tergolong miskin karena definisi miskin dari pemerintah adalah KK yang lantai rumahnya dari tanah liat? atau mungkin itu adalah cara mereka hidup yang kental dengan kearifan lokal?

Advertisements