Keikhlasan Shiro

Leave a comment

Shiro menatap kedepan. Dia tengah berdiri di atas benteng Zhi Jiang. Di cakrawala sana tampak 3000 pasukan Chung Ta yang dipimpin oleh Harimau Hitam berbaris seperti semut. Dia tahu amatlah berat melawan pasukan elite Harimau Hitam hanya dengan 500 pasukan yang dimilikinya di dalam benteng. Bahkan nama besar Anak Naga pun tidak akan banyak membantu.

Shiro memejamkan mata, namun dia tahu ada yang bertransformasi di dalam dirinya. Kini dia berperang bukan untuk menang. Tak ada lagi doa untuk bisa mengalahkan musuh. Pemahamannya telah berada pada level yang berbeda dari perang yang terakhir dialami. Dia tidak peduli lagi pada menang/kalah. Yang ada dalam benaknya adalah sekedar berperang dengan usaha dan siasat yang maksimal. Terserah apakah nanti dia harus menyerahkan lehernya kepada Chung Ta, ataukah ternyata dia bisa mengusir musuh.

“Ada titik dimana hasil dan status tidak lagi begitu penting” batin Shiro bergumam. Karena pada saat itu kita hanya akan ingat bahwa ada hal-hal yang patut diperjuangkan. Sesuatu yg cukup berharga itu akan terus diperjuangkan dengan segenap usaha dan siasat tanpa perlu tahu apakah akhirnya berhasil atau tidak. Baginya Zhi Jiang adalah salah satu dari sedikit hal di dunia yang patut dia perjuangkan.

Dia membuka mata, dan elang yang terbang diatas bisa melihat matanya berkilau-kilau. dalam hati dia berujar “Keikhlasan tidak bisa dipelajari, keikhlasan hanya bisa dijalani”. Termasuk juga keikhlasan menjalani perang ini dengan sepenuh hati, dengan sebaik2nya diluar harapan atas kemenangan atau kekhawatiran akan kekalahan.

*selintaspemahamandiselasausblackpeppertadimalam 🙂

topaz 2nd day

1 Comment

sebuah pemikiran muncul pada hari kedua seminar kemarin.

bagaimana men-generate non tuition income dari universitas?

tentu saja jawaban paling mudah adalah riset/proyek.

siapa yang paling berpotensi menjadi motornya? tentu saja dosen.

tapi bagaimana mungkin dosen bisa men-generate non tuition income jika dosen disibukkan dengan kegiatan administrasi?

jika dosen dibebaskan dari kegiatan administrasi, bagaimana peran institusi sehingga dosen tidak mroyek diluar?

saya berpikir institusi bisa berperan sebagai fasilitator,sementara dosen bisa bertindak sebagai eksekutor.

fasilitator disini adalah dalam membentuk jaringan dengan industri, karena institusi punya brand yang bisa digunakan sebagai nilai jual untuk menarik industri masuk.

permasalahannya dibutuhkan kemauan untuk merubah sistem yang sudah ada.

saya yakin dosen akan lebih berdaya guna jika digunakan sebagai eksekutor project/research daripada waktunya habis digunakan untuk mengurusi administrasi saja.

menurut info harvard punya dana abadi dari non-tuition-income yang memungkinkan untuk tetap membiayai operasional harvard bahkan jika mahasiswa nya tidak membayar apa2.

hmm… masih berupa ide, ttp menarik juga untuk di eksplorasi 🙂

Amor Fati

Leave a comment

Amor Fati, Fatum Brutum: Saya mencintai takdir, walau takdir itu brutal…

Terima Kasih Mas Tanto, Mas Fahmi, Mbak Eci, Dienz, Mas Oye, Macayo, Rizal dan teman2 lainnya di Madrasah Filsafat Tobucil yang memperkaya cara pandang saya terhadap kehidupan dan penderitaan.

Tidak disangka permasalahan sepele saya akan dikupas habis2an tadi malam… terima kasih, terima kasih…

Topaz Hari Ini

Leave a comment

Internalisasi Borang Akreditasi hari ini membuat angan saya melayang-layang.
Dari Kementrian, Topik riset vokasional yang aplikatif, Program pemberdayaan masyarakat dll…

Betapa saya bertemu dengan orang-orang yang hebat.
Kang Kun dari Prodi Desain Interior nya STISI.
PJS Ketua YPT yg memberikan insight berpikir.
Dan tentu saja Pak Jangkung dengan Bandung Techno Park nya yang mengusik keingintahuan saya untuk men-generate Non-Tuition Income dari sebuah Universitas.

sedikit quote hari ini:
– akademisi boleh salah, tetapi tidak boleh bohong
dokter boleh bohong, tetapi tidak boleh salah
politisi? boleh bohong dan boleh salah :p

– pemimpin yang baik:
mempunyai visi bagai seorang raja
mempunyai jiwa bagai seorang pejuang
mempunyai hati bagai seorang hamba

interkoneksi adalah nama lain dari sebuah kesuksesan… humm… interesting trail to go 🙂

The Question

Leave a comment

Ran menyeka mata sementara Shinichi berdiri kikuk setengah meter didepannya. Dengan suara bergetar menahan sesenggukan Ran bertanya: “Jadi menurutmu, lebih baik terus menerus mencintai orang yang tidak mencintaimu… atau mencoba belajar mencintai orang yang jelas sangat mencintaimu ?”

Shinichi tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia tahu cepat atau lambat dia harus memilih. Jauh dibenaknya dia tahu bahwa waktu adalah sumberdaya yang tidak bisa diperbaharui. Tiap detik yg berlalu tidak akan bisa dia balikkan lagi sebanyak apapun uang yang dimiliki.

bowling and life

Leave a comment

life is more and less like a bowling game…
kita diberi sebuah bola yang berat, dan susah untuk diarahkan.
terkadang dalam usaha untuk meluruskan lemparan, bola itu melenceng bukan mengarah di tengah.
atau juga saat biasa saja, tiba2 bola itu lurus sendiri dan strike pun didapat.
tidak pernah ada jaminan berapa banyak pin yang akan jatuh,
walaupun arah bola nya tepat mengarah ke tengah atau ke samping.
semuanya bisa berpotensi strike, semuanya bisa berpotensi menumbangkan sedikit pin atau tidak sama sekali.

the funny thing is,
apakah ketika strike didapat, atau pun jika tidak ada pin yang jatuh sekalipun,
selalu ada alasan untuk tertawa…
cause life is just like bowling, it’s just a game 🙂

*biarpun skor paling kicik, yg penting gaya paling ok. nice bowling game guys, lempar lewat belakang dunk 🙂

Pertempuran

Leave a comment

Nafas Shiro memburu, badannya bergetar. Dia terlalu banyak menggunakan ilmu pertapa untuk menghadapi Dewa Perang Kua Kong. Di depan sana berjarak 10 depa, Kua Kong masih berdiri tegar tak bergeming. Hati Shiro pun mulai ragu, akankah dia bisa mengalahkannya?

Tiba-tiba matanya gelap, ternyata efek ilmu pertapa lebih parah dari dugaannya. Pembuluh darahnya mulai pecah dan separuh tangannya lumpuh. Shiro terjatuh berlutut… matanya memerah karena darah yang mengucur dari pelipisnya yang robek.

Tinggal menunggu sebuah serangan tombak Kua Kong, maka selesailah sudah…

“Aku… tidak berdaya… Aku lemah… Aku yang bodoh berani berperang menantang Kua Kong…”

Bayangan Dewi Naga kembali muncul, hatinya sakit karena dia tidak akan bisa lagi melihat cantik wajahnya.

Pelan-pelan aroma kematian meruap saat Kua Kong mulai melepaskan jurusnya…

Lalu dikepala Shiro muncul suara:

“Kalau nantinya juga lapar, kenapa sekarang harus makan ?”
“Kalau nantinya bakal kotor lagi, kenapa sekarang harus mandi?”
“Kalau akhirnya juga akan mati, kenapa harus bersusah payah berjuang untuk tetap hidup?”
“Shiro, jika kau bisa menjawabnya maka kau akan bisa mengalahkan lawan sehebat apapun…”

Older Entries