Shiro menatap kedepan. Dia tengah berdiri di atas benteng Zhi Jiang. Di cakrawala sana tampak 3000 pasukan Chung Ta yang dipimpin oleh Harimau Hitam berbaris seperti semut. Dia tahu amatlah berat melawan pasukan elite Harimau Hitam hanya dengan 500 pasukan yang dimilikinya di dalam benteng. Bahkan nama besar Anak Naga pun tidak akan banyak membantu.

Shiro memejamkan mata, namun dia tahu ada yang bertransformasi di dalam dirinya. Kini dia berperang bukan untuk menang. Tak ada lagi doa untuk bisa mengalahkan musuh. Pemahamannya telah berada pada level yang berbeda dari perang yang terakhir dialami. Dia tidak peduli lagi pada menang/kalah. Yang ada dalam benaknya adalah sekedar berperang dengan usaha dan siasat yang maksimal. Terserah apakah nanti dia harus menyerahkan lehernya kepada Chung Ta, ataukah ternyata dia bisa mengusir musuh.

“Ada titik dimana hasil dan status tidak lagi begitu penting” batin Shiro bergumam. Karena pada saat itu kita hanya akan ingat bahwa ada hal-hal yang patut diperjuangkan. Sesuatu yg cukup berharga itu akan terus diperjuangkan dengan segenap usaha dan siasat tanpa perlu tahu apakah akhirnya berhasil atau tidak. Baginya Zhi Jiang adalah salah satu dari sedikit hal di dunia yang patut dia perjuangkan.

Dia membuka mata, dan elang yang terbang diatas bisa melihat matanya berkilau-kilau. dalam hati dia berujar “Keikhlasan tidak bisa dipelajari, keikhlasan hanya bisa dijalani”. Termasuk juga keikhlasan menjalani perang ini dengan sepenuh hati, dengan sebaik2nya diluar harapan atas kemenangan atau kekhawatiran akan kekalahan.

*selintaspemahamandiselasausblackpeppertadimalam 🙂

Advertisements