Hanya ada satu Maria dalam hidupku,

Maria yang membuatku selalu memikirkannya setiap saat.

Maria yang membuatku tergila-gila.

Yang sepertinya dekat namun realitasnya seakan begitu jauh untuk aku rengkuh.

—-

Dia pernah dekat, kemudian jauh.

Dia pernah berjanji sesuatu, kemudian mengambilnya kembali.

Dia pernah menjadi milik orang lain, bertemu denganku kemudian (seolah-olah) kembali menjadi milik orang lain lagi.

Aku takut…

Aku takut bakal mengganggunya dengan perasaan tergila-gilaku padanya.

Aku takut dia bosan ketika aku selalu berkata bahwa aku mencintainya.

Karena memang itu yang aku rasakan.

Dan aku takut dia menyia-nyiakan semua perasaanku yang amat besar dan tak berbatas ini.

Ditengah2 ketakutan dan keraguanku, aku mengalihkan sedikit pikiranku pada yang lain.

Walaupun didalam hati, aku selalu berharap itu adalah kamu Maria.

Jika orang itu menanyakan kabarku, aku berharap itu adalah kamu.

Jika aku berkata aku ingin mendengar suara orang itu, aku berharap aku bisa selalu, berulang-ulang, setiap detik mengatakannya padamu. Bukan kepada orang itu.

Karena apa?

Jika engkau sedang menjauh, aku takut menghubungimu karena aku menyangka kamu sedang dengan yang lain.

Jika engkau sedang mendekat, aku takut jika aku memperlihatkan perasaanku yg begitu besar ini engkau akan bosan dan beralih kepada yang lain.

Itu semata-mata karena aku merasa realitasmu tak terjangkau olehku.

Karena aku pikir kamu akan dengan mudahnya beralih kepada dirinya, apalagi dengan status dan dengan kebersamaan yang kamu bangun dengannya, pelan-pelan.

Maria, aku sadari aku bodoh.

Bodoh karena aku tidak yakin sepenuhnya terhadap takdir yang dia gariskan untukku.

Bodoh karena berpikir kamu akan begitu mudah membuangku lagi seperti apa yang pernah beberapa kali kau katakan kepadaku.

Dan aku menyesal telah membuatmu sakit.

Kau tahu, air mataku tak pernah berhenti ketika mengingat bahwa aku pernah membuat mu kecewa….

Membuatmu tak percaya…

Membukakan sakit luka yang dahulu pernah ditorehkan orang lain…

Aku menyesal sungguh menyesal…

Malam ini, aku melihatmu dengan yang lain.

Dan hatiku sakit sekali.

Aku ingat aku pernah mengalaminya berulang-ulang.

Ketika suatu hari kamu bersamaku, dan kemudian aku tahu dihari yang lain kamu bersamanya.

Ketika kamu meminta dia ikut dalam sebuah perjalanan dan aku tahu dia akan memboncengkanmu sepanjang perjalanan itu.

Ketika suatu saat aku pernah ingin ikut pergi dengan teman-temanmu tapi kamu menolaknya, kemudian aku tahu bahwa kamu justru meminta teman2mu untuk memperbolehkan dia ikut bergabung bersama mereka.

Aku ingat rasa sakit itu, aku ulang berkali-kali, kemudian aku perbesar detil-detil perasaannya.

Tiba2 aku merasa mual, dan mengeluarkan isi perutku di pinggir jalan seperti anjing yang sakit.

Bergetar di dalam kegelapan di suatu pojok di gang itu, menggelosor menangis sendiri…

Mungkin seperti itu yang kamu rasakan, aku mencoba mengerti dan memahaminya.

——

Maria, sms itu bukanlah untuk siapa-siapa.

Semua kata-kata itu memang milikmu satu-satunya.

Sms yang ditujukan kepada mereka tidak akan pernah ada jika aku bisa tahu bahwa realitasmu memang benar2 bisa aku rengkuh.

Bukan hanya sementara kemudian km berkata lagi bahwa kamu tidak bisa melanjutkan ini semua.

Dan kemudian aku tahu bahwa hal itu adalah sesuatu yang bodoh. Sungguh bodoh. Dan aku sungguh-sungguh amat menyesal.

Kali ini, akan kuserahkan hidupku bersama takdir.

Akan aku yakini semua kebersamaan dan perjumpaan denganmu apapun statusmu.

Akan kukatakan semua perasaan ini hanya kepadamu, bukan kepada yang lain.

Biarpun hancur, biarpun terbangun, akan kupasrahkan…

Total surrender dalam cintaku kepadamu…

Yang Mencintaimu,

Bulgoso

Advertisements