Galih baru balik dari rapat di lantai 3. Dia datang ke mejanya dan melihat sebuah jas hujan tersampir di kursinya. Entah kenapa berdesir rasa bahagia. Seperti angin yg berhembus sepoi-sepoi ketika gerah melingkupi.

Kemudian otaknya mulai merunut logika. Menelusuri rangkaian peristiwa yang berujung pada rasa bahagia yang menyiram hatinya. Siang itu ketika berpisah Aisyah membekalinya dengan sebuah jas hujan. Jas hujan itu yang menyelamatkannya di perjalanan. Dia teringat wajah Aisyah yg syahdu. Dan tiba2 tersungging senyum di bibir Galih.

Entah kenapa selip-selip bayangannya selalu ada di setiap aktivitas nya. Seperti ketika Galih harus berbicara di depan sekelompok besar orang. Sebelum dia maju, dia sejenak terdiam… lalu Doni disebelahnya bertanya:

Doni: kenapa kak, kok tiba2 diam?

Galih: uhmm… it’s nice (dengan pandangan mata setengah menerawang)

Doni: apanya yang nice?

Galih: rasa kangen ini… (sambil sedikit tersipu)

Doni: Subhanallah…

*in a beautiful morning, while your scent linger…

Advertisements