Kemarin rekan saya Ferdian menyetel trailer Film Tanda Tanya di youtube.

Saya langsung tertarik, karena trailer Film itu mengusung isu2 yang sensitif seperti
masalah pindah agama, pencarian dan klaim akan kebenaran, juga benturan2 antar kepercayaan beserta stigma yang melekat pada tiap pandangan.

Segera saya ingin menontonnya di bioskop karena saya ingin tahu bagaimana Film ini menyimpulkan dan menutup akhir cerita.

Tetapi sempat kecewa ketika terdengar kabar bahwa MUI melarang pemutaran film ini.

Saya kira diskusi tentang hal ini akan lebih banyak membuka pandangan terhadap pihak-pihak yang terlalu fanatik.

Akan jauh lebih baik untuk melihat kesamaan daripada mengedepankan perbedaan.

Adapun yang mengkhawatirkan bahwa film2 seperti ini akan menuju pada penyatuan semua agama maka saya akan menyanggahnya.

Someone said to me  that “Tuhan memang satu, kita yang tidak sama”

Tuhan jadi berbeda-beda karena kita mencoba menangkapnya dengan pikiran. Mengkonsepkannya. Memahaminya.

Tetapi Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa ditangkap dengan pikiran. Dia adalah sesuatu diluar pikiran. Karena apapun yang bisa ditangkap oleh pikiran selalu terkondisi, terbatas, selalu berubah.

Saya ingat Emha Ainun Nadjib pernah datang ke kampus saya bersama Kiai Kanjengnya. Kemudian beliau bersholawat dengan iringan nada Silent Night.

Dia bercerita bahwa nada itu universal…lirik yang menjadikannya bermuatan.

Dan terdapat keindahan di segala persamaan nada agama yang universal, walaupun pasti selalu ada perbedaan di detil2nya.

Bukankah perdamaian tercipta saat kita mengerti persamaan dan bisa menghargai perbedaan?

Vote for Film Tanda Tanya 🙂

Advertisements