Pas pertama dateng ke asrama Helmi sama Indri kaget. Karena aku cuma bawa satu backpack dan trolley kecil.

“Cuman bawa ini? Sakit ati ngeliatnya”

Aku mesem2 aja karena memang penggemar light weight packing. Pengalaman2 backpackeran dulu ngajarin kalau aku terlalu banyak membawa yg aku inginkan, bukan yang benar2 aku butuhkan. Dan itu sangat menghabiskan energi.

Setelah menyadari hal itu kemudian selalu ada proses screening ketika akan memasukkan barang untuk bepergian.

kepikiran ide juga klo metode macam itu bagus jika diaplikasikan dalam hidup dan pikiran. Disadari atau tidak, aku sering memikirkan hal2 yang sebenernya tidak benar2 aku butuh untuk pikirkan.

Small stuff that doesn’t need to be sweat of.

Barusan cari2 permen di tas. Ketemunya antangin. Jadi inget My Wifey is really take good care of me. Pas mau berangkat dibawain antangin, madu, syal, kaos tangan, minyak putih, alat mandi dll.

She know that I like light travel. But she also know that I need the stuff to make me comfort.

Well, its an art I think.

To balancing the “accessories of life” and important things that support our life.

*di sebuah kereta cepat menuju Amsterdam 🙂

Advertisements