Bagaimana mungkin mereka mengaku bahwa dirinya beriman sedangkan mereka belum diuji? Kalimat ini terlintas di dalam pikiran saya mengawali sebuah hari di tahun 2012.

Iman hanya bisa dilakukan pada sesuatu yang tak terlihat. Jika sesuatu itu sudah tampak fisik, tidak lagi diperlukan keimanan. Iman dan  keyakinan ada pada tataran non fisik, belum tergapai, imajinasi, angan-angan. Dan Iman pasti diuji, dengan kesulitan. Dengan halangan yang tampak.

Iman selalu berfokus pada masa depan. Dia adalah sarana untuk lepas dari belenggu masa lalu.

Anda punya kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu? Gunakan Iman, maka Anda akan bisa menatap masa depan.

Dan bukan hal yang mudah, karena bagi orang-orang yang beriman akan selalu ada ujiannya.

Iman yang tidak dipraktekkan akan menjadi impian kosong. Iman harus diikuti dengan tindakan, berulang-ulang sehingga menjadi disiplin dan karakter.

Sebaliknya, perbuatan yang berulang-ulang bisa membentuk iman.

Jika saya melakukan sebuah perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang saya miliki, kemudian mengulanginya terus menerus, maka saya membentuk iman kepada kemerosotan diri saya sebagai seorang manusia.

Practice will develop discipline, discipline will develop character, character will realize the future.

In consequences, Dream will give you force to do. Do it oftenly and become habit, then habit will become character. The circles goes on.

Selalu ada jalan yang mudah untuk menghindari ujian.

Selalu ada shortcut yang kita pikir akan melepaskan kita dari kesulitan ini.

Tetapi mari kita tanya pada diri kita sendiri, apakah kita mengaku sebagai orang yang beriman?

Agama adalah panduan hidup, sehingga ajaran agama seharusnya bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah kita meyakini sesuatu dalam kehidupan kita?

Masa depan, impian, keinginan, nilai2…?

*sebuah renungan di awal tahun 2012

Advertisements