Ini sebenarnya adalah honeymoon yang tertunda. Maklum setelah 11 hari menikah, saya harus berangkat dan istri tidak bisa ikut karena masih menyelesaikan studi juga di Bandung. Jadi setelah 6 bulan lebih tidak pertemu, akhirnya kami bisa berkumpul kembali. Yay 🙂

Brussels, Bratislava, Prague, Koln, Dusseldorf, Amsterdam. Begitu banyak moment yang kami lewati bersama.

Di Brussels kami bertemu dengan orang-orang yang baik hati.

Opa dan Oma yang kami temui di kereta. Mereka berbaik hati mengantarkan kami ke alamat Lieke dengan mobilnya walau mereka juga tak tahu alamat tepatnya. Kami ingin bisa jadi seperti mereka, bersama sampai tua.

Lieke dan Pieter yang tidak hanya membuka pintu rumahnya untuk orang asing, tetapi juga pengalamannya dalam relationship dan mendidik anak. Dia bercerita tentang pentingnya komunikasi dengan cara yang baik. Kami suka suasana rumahnya yang dipenuhi dengan gambar-gambar anak2. Rumahnya adalah tempat dimana pengembara-pengembara dari berbagai eropa singgah.

Pak Simon dan ibu Nora, mantan pemilik restoran Chopstick yang “memungut” kami dari taman Dendermonde dan mengundang kami ke rumahnya. Cerita kehidupan, sajian ceker tauco dan juga keramahan Indonesia begitu kental terasa. Belgian Chocolate yang mereka berikan menjadi sebuah bekal yang sangat berharga yang menemani kami survive di kota-kota selanjutnya ketika sulit mencari makanan yang cocok untuk lidah asia kami.

Gregory, teman mengejar pesawat asal Italia yang sedang mencari dunia baru. Dia bercerita bahwa bertemu orang baru adalah bertemu energy baru, pola pikir baru dan passion baru. Kami bertukar tulisan di buku masing-masing, ini kata-kata yang dia tuliskan di buku saya:

“they say the world is so big.. but when you meet people on a more of a couchsurfer or hospitality club, suddenly it feels like everywhere could be home…  the world is small, you need just to start exploring it… you can do it like a wise old 8 month married couple or like a funny 11 days just married honeymoon couple… whatever you choose… keep being like you are coz close to you both… I FEEL LIFE ENERGY! – Big Hug from Gregory…”

Dari Brussels kami terbang ke Bratislava. Terima kasih kepada RyanAir, penerbangan murah yang memungkinkan kami berpindah dari Eropa Barat ke Eropa Timur dengan harga yang terjangkau.

Nama Bratislava pertama kali saya dengar sewaktu menonton Film EuroTrip beberapa tahun lalu. Bukan karena keindahan kotanya, tetapi karena ada adegan yang mempertontonkan murahnya harga-harga di kota itu. Dan memang harganya jauh berbeda dari Brussels maupun Belanda. Roti Baguetta yang panjang dan bisa dimakan berdua hanya seharga 1.4Euro. Bandingkan dengan harga French Fries di Amsterdam yang mencapai 2.5 Euro (1Euro kira2 12ribu rupiah).

Honeymoon bukan hanya waktu untuk melihat tempat-tempat indah atau melakukan aktifitas yang menyenangkan. Tetapi lebih penting lagi adalah kesempatan untuk berkomunikasi tanpa interupsi. Professor Carol Dweck berkata bahwa hubungan yang baik tidak dicapai begitu saja, tetapi bahkan diusahakan dan dilatih bersama. Di kota ini, kami belajar bagaimana cara yang lebih untuk mengetahui perasaan masing2.

Dari Bratislava kami menggunakan Bis Eurolines menuju Prague. Perjalanan 5 jam itu dibandrol dengan harga 14Euro.

Prague adalah kota yang cantik. Sangat cantik. Kalau Brussels Square membuat kami takjub dengan arsitekturnya, Prague membuat kami seperti ada di negeri dongeng. Berbagai jenis arsitektur seperti Kubisme, Gothic, Medieval, Jewish and Catholic ada di kota itu. Setiap sudut kota adalah karya seni.

Prague punya kompleks Medieval Castle terbesar di Eropa. Prague Castle terletak di atas bukit dan sangat indah untuk disinggahi pada malam hari. Dari Prague Castle anda bisa melihat kerlip2 kota Prague yang sangat cantik. Kompleks Castle nya sendiri sangat luas dan terdiri dari bangunan2 megah dengan ukiran dan arsitektur yang sangat mempesona.

Sistem transportasi di Prague juga sangat bagus dan intuitif. Menurut teman saya, Subway Metro di Prague adalah alat transportasi anti nyasar karena sangking jelasnya. Selain Metro moda transportasi yang lain seperti Tram dan Bus juga gampang dimengerti. Istri saya tidak membutuhkan waktu lama untuk berusaha membaca jalur tram untuk menjangkau sisi-sisi kota yang ingin kami singgahi. Harga tiketnya menggunakan satuan waktu. Untuk tiket 15menit perjalanan kita membutuhkan 12korun (0.5Euro).

Escalator di bawah ini adalah Escalator di Subway Metro Prague. Escalator kereta bawah tanah ini merupakan escalator terpanjang tercuram dan tercepat yang pernah saya naiki. Kemiringannya saya perkirakan hampir 45derajat. Mungkin saja karena escalator ini menghubungkan dua tingkat kereta bawah tanah, atau mungkin juga arsiteknya ingin menggabungkan fungsionalitas dan entertainment. Lumayan bikin sport jantung pada awalnya.

Namun hati-hati jika ada orang di jalan-jalan Prague yang menawarkan untuk menukarkan uang dengan kurs yang menarik. Kami sempat salah menukar sehingga mengakibatkan kehilangan beberapa puluh Euro. Pastikan anda menukarkan uang di Money Changer yang punya kios tetap.

Perjalanan ini membuat kami banyak ngobrol dan bicara dari hati ke hati, kami duduk di taman Old Town Prague, dan berbicara tentang banyak hal. Senja di Arpacay hotel, Siang di Mustek Centre Prague. Di kereta dari Arnhem menuju Roosendaal. Di Florenc sambil menunggu bis Student Agency eksklusif yang mirip pesawat terbang. Terpingkal-pingkal di Karlovo Namesti.

Kami tertawa, menangis, berbicara, menyanyi, terkagum-kagum, merasakan khawatir, kedinginan, kepanasan, menikmati nyaman dan tidak nyaman bersama. Kami belajar bersama dan merayakan hal-hal kecil.

Kami mencicipi makanan cina, makanan turki, makanan eropa, makanan vietnam. Bukan karena banyak uang, tetapi karena budget juga harus menyesuaikan 😀 Ada yang kami sukai, ada yang kurang cocok bagi lidah kami. But it’s nice. Semua perbedaan itu membuat kami belajar bahwa walaupun punya hardware yang sama, kebiasaan dan pola hidup bisa membentuk seseorang menjadi sangat berbeda.

Perjalanan ini adalah miniatur masa depan kami. Kami berharap bisa selalu belajar bersama. Tidak harus mencapai apa yang kita inginkan. Tidak harus terlalu terikat dengan keinginan. Tetapi yang paling penting adalah menikmati semua proses dan pembelajaran.

Expect the unexpected. Because you’ll never know for sure what you’ll get. Just enjoy every moment, because there’s always something to be grateful of on each moment.